Minggu, 17 Oktober 2010

titrasi

Bagi mahasiswa kimia, tentunya tidak asing lagi ketika mendengar istilah titrasi. Ya, titrasi merupakan salah satu metode analisis kuantitatif konvensional yang sampai saat ini masih digunakan meskipun sudah banyak instrumen-instrumen yang lebih cepat dan akurat dalam menganalisis. Titrasi masih menjadi pilihan karena selain peralatannya yang sederhana dan cukup murah, namun juga merupakan dasar dari teknik analisis kuantitatif.
Secara umum komponen utama dari peralatan titrasi ada dua, yaitu buret dan erlenmeyer

Buret berisi larutan pentitrasi, sedangkan dalam erlenmeyer berisi larutan yang dititrasi.
Dalam melakukan titrasi ada dsua jenis larutan wajib yang harus ada. Pertama adalah larutan yang akan dianalisis kandungan di dalamnya, atau lebih sering disebut analit. Larutan kedua adalah larutan pembanding yang sudah diketahui konsentrasinya, atau lebih sering disebut larutan standar. Di luar dua jenis larutan tersebut ada pula yang disebut indikator titrasi. Indikator titrasi ini digunakan untuk memberi tanda saat titik akhir titrasi. Biasanya titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan. Contoh indikator yang digunakan dalam titrasi asam-basa misalnya fenolftalein, metol orange, bromtimolbiru dan lain-lain.
Ada beberapa jenis titrasi, yaitu:
1.Titrasi asam-basa
Yaitu titrasi yang di dalamnya berlangsung reaksi asam-basa.

2.Titrasi redoks
Yaitu reaksi yang di dalamnya melibatkan adanya transfer elektron dari satu senyawa ke senyawa yang lain. Atau secara singkat merupakan titrasi di mana dialamnya berlangsung reaksi reduksi oksidasi.

3.Titrasi pengendapan
Yaitu reaksi yang dalam prosesnya melibatkan terbetuknya endapan.

0 komentar:

Posting Komentar