Minggu, 06 Februari 2011

Rhodamin B

Rhodamin B adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah (Trestiati, 2003). Zat warna sintetis rhodamin B adalah salah satu zat pewarna dinyatakan sebagai bahan berbahaya menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 tentang zat warna yang dinyatakan berbahaya dan dilarang di Indonesia. Kelebihan dosis rhodamin B bisa menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-paru, mata, tenggorokan, hidung, dan usus. Hasil penelitian uji toksisitas menunjukkan rhodamin B memiliki LD50 lebih dari 2000mg/kg dan menimbulkan iritasi kuat pada membran mukosa (Otterstätter, 1999).
Berdasarkan struktur kimianya rhodamin B merupakan golongan xanthene (Gambar 2.3). Rumus molekul rhodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.02 gram/mol. Dalam wujud terlarutnya rhodamin B akan membentuk kation dengan melepaskan ion Cl-. Selain dalam air, rhodamin B larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH. Di laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th. Titik leburnya pada suhu 165 oC.

X-Ray Diffraction (XRD)

X-Ray Diffraction (XRD) adalah metode yang secara umum digunakan untuk melihat posisi suatu atom dalam molekul atau padatan. Prinsip utama dari XRD ini adalah interaksi antara sinar X dengan elektron dalam materi. Saat sinar X ditembakkan ke materi, sinar tersebut akan dipantulkan ke beberapa arah oleh awan elektron yang ada dalam atom. Setiap kisi kristal akan memberikan arah pantulan yang berbeda. Semakin seragam suatu kristal, maka arah pantulannya akan semakin seragam pula. Panjang gelombang sinar X yang digunakan dalam XRD adalah antara 0,6 – 1,9 Å (Dann, 2000).

Transmission Electron Microscope (TEM)


TEM adalah alat paling teliti yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel karena resolusinya yang sangat tinggi. Prinsip kerja TEM mirip dengan peralatan roentgen. Pada TEM sampel yang sangat tipis ditembak dengan berkas elektron yang berenergi sangat tinggi. Berkas elektron dapat menembus bagian yang “lunak” sampel tetapi ditahan oleh abgian yang “keras” sampel (seperti partikel). Detektor akan menangkap berkas elektron yang lolos dari bagian lunak sampel. Akibatnya detektor menangkap bayangan yang bentuknya sama dengan bentuk bagian keras sampel (Abdullah, 2009). Gambar yang dihasilkan tidak memberikan banyak informasi tentang kedalaman kristal, kemudian karena didasarkan pada lolosnya elektron atau tidak, maka corak permukaan tidak dapat diamati. TEM dapat digunakan untuk mengamati benda dengan ukuran 10-1000 Å (Dann, 2000).