Bila senyawa organik berwarna diadsopsi pada permukaan suatu endapan, dapat terjadi modifikasi struktur organiknya, dan warna itu dapat sangat berubah dan dapat menjadi lebih tua. Gejala ini dapat digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam perak. Senyawa organik yang digunakan dengan cara demikian ditunjuk sebagai “indiktor adorpsi” (Underwood, 1986).
Mekanisme bekerjanya indikator semacam itu berbeda dengan mekanisme apapun yang telah dibahs sejauh ini. Fajans, yang menemukan fakta bahwa floureseins dan beberapa fluoreseins tersubstitusi dapat bertindak sebagai indikator untuk titrasi perak. Bila perak nitrat ditambahkan ke dalam suatu larutan natrium klorida, partikel perak klorida yang sangat halus itu cenderung menempel pada permukaannya (mengadsopsi) sejumlah ion klorida berlebihan yang ada dalam larutan itu. Ion-ion koerida ini dikatakan memebentuk lapisan teradsorpsi primer dan dengan demikian menyebabkan partikel koloidal perak klorida itu bermuatan negatif. Partikel negatif ini kemudian cenderung menarik ion positif dari dalam larutan untuk membentuk lapisan asorpsi sekunder yang terikat lebih longgar.
(AgCl)Cl- -- M+
Bila perak nitrat terus-menerus ditambahkan, sampai ion peraknya berlebih, ion-ion ini akan menggantikan ion klorida dalam lapisan primer. Maka partikel menjadi bermuatan positif, dan anion dalam larutan ditarik untuk membentuk lapisan sekunder.
(AgCl)Ag+ -- X-
Fluoresseins merupakan asam organik lemah yang dapat dilambangkan dengan HFl. Apabila fluoresseins ditambahkan ke dalam labu titirasi, anionnya, Fl-, tidaka akan diserap oleh perak klorida selama ion klorida masih berlebih. Tetapi bila ion perak berlebbig maka ion Fl- dapat ditarik kepermukaan partikel yang bermuatan positif, seperti:
(AgCl)Ag+ -- Fl-
Agregat yang dihasilakan akan berwarna merah muida dan warna itu cukup kuat untuk digunakan sebagai indikator visual (Underwood, 1986).






0 komentar:
Posting Komentar