Kamis, 30 Desember 2010

Kitosan


Kitosan adalah turunan utama kitin yang dihasilkan melalui proses deasetilasi kitin. Kitosan pertama kali ditemukan oleh Rouget pada tahun 1859. Kitosan adalah biopolimer glukosamin linier yang terbentuk dari unit ulang 2-amino-2deoksi-D-glukosa atau disebut (1,4)2-amino- 2deoksi-D-glukosa dan ini merupakan nama resmi kitosan yang mempunyai berat molekul rata-rata 120.000 (Muzzarelli, 1977). namun kitosan dirujuk dari hasil proses deasetilasi kitn dengan derajat depolimerasi yang berbeda-beda (Agusnar,2006).
Kitosan merupakan polisakarida alami dari kopolimer glukosamin dan N-acetylglukosamin, dan dapat diperoleh dari deasetilasi kitin (khan et al, 2002). Metoda penyediaan kitosan pertama kali dibuat oleh Hope Seyler pada tahun 1894 yaitu dengan merefluksi kitin dalam alrutan kalium hidroksida paha temperatur 180 oC dan proses deasetilasi kitin dapat terjadi tanpa pemutusan rantai polimernya (Muzzarelli, 1973).
Berbagai metode digunakan untuk menyediakan kitosan dengan derajat deasetilasi tertentu, diantaranya Horowitz, Wolfrom, Broussignae, dan Fujita (Muzzarelli, 1977). Hidrolisis gugs asetil pada kitin dapat dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH kuat, didikuti pencucian, pengubahan pH dan proses pengeringan. Pada tahap ini kitosan masih berbetuk kepingan kasar dan dapat dihaluskan mengikuti ukuran tertentu (Agusnar, 2006).
Cara untuk mendapatkan kitosan yang lebih murni yaitu dengan melarutkan kitosan dalam larutan asam asetat, disaring sehingga diperoleh hasil yang jernih yang kemudian dikeringkan sehingga diperoleh kitosan murni dalam bentuk garam kitosium yang larut dalam air. Untuk mendapatkan hasil murni dalam bentuk amina bebas, endapan harus dicuci dan dikeringkan (Sand ford dan Hutching, 1987).

Rabu, 22 Desember 2010

Kitin

kitin adalah biopolimer alami terbesar kedua setelah selulosa. Kitin dapat diperoleh dari Arthropoda, jamur, dan ragi (Fernandez, 2004), tetapi sumber komersial yang penting adalah eksokleton dari kepiting (Kim dan Park, 2001). kitin dapat diisolasi dari cangkang kepiting dengan 2 tahap, (1) pemisahan protein (deproteinasi)dan pemisahan kalsium karbonat dan kalsium phospat (demineralisasi) (Kim dan Park, 2001).
walaupun kitin tersebar luas di alam, sumber utama yang dapat digunakan untuk memproduksi kitin dalam skala besar dan dijadikan untuk penegmbangan lebih lanjut adalah kitin yang terdapat pada Crustaceae yang dipanen secara komersial seperti udang dan lobster. Kitin dari enis Crustaceae ini banyak tersedia dalam jumlah besar sebagai limbah industri pangan (Carroad and Tom, 2001).
struktur kitin mirip dengan selulosa yaitu ikatan yang terjadi antara monomernya terangkai dengan ikatan glikosida pada posisi 1,4. Perbedaan dengan selulosa adalah gugus hidroksil yang terikat pada atom karbon kedua, pada kitin diganti dengan gugus asetamida (-NH-CO-CH3) sehingga kitin menjadi sebuah polimer berunit N-asetilglukosamin. Ktosan mempunyai rantai tidak linier dan mempunyai rumus umum (C6H11NO4)n atau disebut sebagai (1,4)-amino-2-deoksi-D-glukosa (perhatikan gambar dibawah:

Senin, 13 Desember 2010

Lulus Cepat, Baikkah?

Bagi rata-rata mahasiswa bayangan lulus kuliah secepat-cepatnya mungkin sudah ada dalam benak mereka sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat kuliah. Namun kemudian timbul pertanyaan, apakan lulus cepat itu jaminan bahwa seseorang itu akan sukses? Mungkin ya, tapi terkadang kelulusan itu merupakan suatu hal yang dipaksakan, bukan masalah IP atau nilai sejenis, tapi lebih pada proses pendewasaan berfikir yang belum sempurna, tentu kawan kimia semua tahu maksud saya.
Kuliah dapat dikatakan bukan merupakan tahap belajar lanjutan dari SD, SMP, dan SMA. Kuliah memiliki tempat tersendiri di belahan otak kita yang membuatnya berbeda. Lalu apa perbedaannya? Kuliah bukanlah sekadar bagaimana memperoleh ilmu tertentu yang akan kita tekuni. Kuliah adalah proses pembentukan pemikiran, logika, dan proses pendewasaan. Pembentukan pemikiran dalam memecahkan masalah-masalah yang ada, pembentukan logika berfikir dalam menganlisa suatu permasalahan, serta proses pendewasaan diri yang tentu akan sangat berguna di kehidupan datang, yaitu kehidupan yang sebenarnya di mana hanya orang yang dapat bersainglah yang dapat bertahan.
Jadi bagaimana jadinya, lebih baik lulus cepat atau tidak? Berdasarkan cepat tidaknya kelulusan seseorang, mungkin tingkat kelulusan seseorang dapat dikategorikan ke dalam empat macam, yaitu:
1. Lulus cepat karena nilai
Jenis ini adalah seorang mahasiswa yang memiliki pola pemikiran, logika dan pendewasaan yang belum sempurna. Pola belajar yang dia terpakan masih layaknya murid SMA, bahkan SD. Yang dia pikirkan hanya nilai-nilai dan selalu nilai. Mungkin orang jenis ini dapat lulus lebih cepat dari yang lainnya, namun apakah dia mampu bersaing dalam dunia kerja yang notabene membutuhkan pemikiran yang mantap. Jika orang jenis ini tidak belajar menjadi lebih dewasa di kemudian hari, maka celakalah dia.
2. Lulus lambat dengan pola berpikir yang mantap
Orang jenis ini dapat dikatakan lebih beruntung daripada orang pertama di atas. Insya ALLAH dengan pola berpikir yang sudah terbentuk, dia akan siap bersaing di dunia kerja, baik susah ataupun senangnya.
3. Lulus cepat dengan proses pendewasaan yang baik
Mungkin ini salah satu bentuk terbaik produk universitas. Lulus cepat dengan nilai yang memadai serta didukung pola pikir yang telah siap di dunia kerja. Orang-orang jenis ini mungkin akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan nantinya, selain karena nilai yang beik didukung pula dengan pola pikir yang baik, perusahaan mana yang akan menolak orang seperti ini? Semoga kita semua dapat seperti orang jenis ini yang tentunya perlu usaha yang tidak biasa.
4. Lulus lambat dengan buruk
Mungkin ini dapat dikatakan orang yang paling merugi dalam perkuliahan. Memangnya apa yang dia dapat? Nilai ancur, pola pikir gak jelas. Orang jenis ini merupakan contoh yang kurang baik dan biasanya hal ada dalam benaknya hanya senang-senang dan senang saja. Semoga kita terhindar dari orang-orang yang seperti ini, Amin.

Lalu, mana yang akan kita pilih? Semua itu bergantung pada usaha anda. Semoga sukses kawan kimia semua, amin........

Minggu, 12 Desember 2010

Entalpi

Jika sebuah sistem bebas mengubah volumenya terhadap tekanan luar yang tetap, perubahan energi dalamnya tidak lagi sama dengan energi yang diberikan sebagai kalor. Energi yang diberikan sebagai kalor diubah menjadi kerja untuk memberikan tekanan balik terhadap lingkungannya, sehingga dU < dq. Kita akan menunjukkan bahwa pada tekanan tetap kalor yang diberikan sama dengan perubahan dalam sifat termodinamika yang lain dari sistem, yaitu entalpi (H). Hal ini dinyatakan dengan:

H = U + pV

p adalah tekanan sistem dan pV adalah sebagian dari definisi H untuk sembarang sistem dan tidak terbatas untuk gas sempurna. Entalpi hanya bergantung pada keadaan sistem sekarang, sehingga entalpi merupakan fungsi keadaan. Perubahan entalpi antara setiap pasangan keadaan awal dan keadaan akhir tidak bergantung pada jalannya. dH sama dengan energi yang diberikan sebagai kalor pada tekana tetap pada sistem yang tidak dapat melakukan kerja tambahan.

dH = dq

pada tekanan tetap, tidak ada kerja tambahan. Hasil di atas yang sering disebut dH = dq adalah yang ingin kita pastikan. Jika suatu sistem dipanaskan pada tekanan tetap dan hanya kerja pemuaian yang dapat terjadi, maka besar perubahan H sama dengan besar energi yang diberikan sebagai kalor (Atkins, 1999).

Teknik-teknik pemisahan dalam kromatografi

1. Analisa elusi
Metoda ini merupakan metoda paling penting dan digunakan secara intensif dalam kromatografi partisi. Dalam metode ini elusi dilakukan dengan mengalirkan fasa gerak hingga campuran terpisah sempurna menjadi komponen-komponennya. Harus diperhatikan bahwa fasa gerak yang digunakan tidak boleh memberi efek bagi fasa diamnya (Hardjono, S.1985).
Elusi pertama dilakukan oleh TSWETT pada tahun 1903 untuk memisahkan pigmen-pigmen daun, pigmen tersebut dapat nampak jelas pada kolom karena warnanya. Senyawa-senyawa tak berwarna dapat pula dilihat lokasinya dengan bantuan sinar ultraviolet (Hardjono, S.1985).

2. Analisa frontal
Dalam analisa frontal larutan dicampurkan terus-menerus hingga kolom menjadi jenuh. Larutan yang keluar dari bagian bawah kolom diukur terus-menerus. Sebagai contoh, campuran yang mengandung tiga komponen A, B, dan C. Anggaplah bahwa komponen A merupakan komponen yang paling lemah terserap oleh fasa diam dalam kolom, kemudia B, dan C yang paling kuat diserap. Jika larutan ditambah terus-menerus, maka komponen A yangmemiliki kemungkinan terbesar akan keluar dari kolom terlebih dahulu. Ketika ditambah terus menerus maka kemungkinan semua komponen akan keluar, namun pada keluaran setelah keluaran pertama maka akan terjadi pencampuran antara komponen A, B, dan C karena penambahan senyawa yang sama secara terus-menerus (Hardjono, S.1985).

3. Analisa perpindahan gerakan
Analisa jenis ini merupakan gabungan dari analisis elusi dengan analisis frontal. Seperti dalam metoda elusi, sejumlah kecil dari campuran diletakkan di atas kolom, kemudian larutan yang lebih kuat diserap ditambahkan secara terus-menerus dari atas kolom. Senyawa ini disebut senyawa pengganti (diplacer). Setiap komponen akan keluar sesuai dengan interaksinya dengan fasa diam di dalam kolom. Komponen yang paling kuat terserap kemudian didorong keluar oleh displacer tadi (Hardjono, S.1985).

Ebook kimia fisik


salam kimia kembali semua,kali ini kumpulan ebook yang hendak kami share adalah ebook kimia fisik. Memang jumlah ebook kimia fisik yang akan kami share tidak sebanyak ebook-ebook pendahulunya, namun tetap patut di miliki. Berikut ini ebook kimia fisik yang ada dalam paket produk kami:
1. Boyle’s and Mariotte’s law and Gay-Lussack’s law of an ideal gas verification
2. INSTRUCTIONS FOR THE OXYGEN BOMB CALORIMETER
3. kimia-kuantum-total
4. Monk_physical Chemistry-Understanding Our Chemical World
5. physicalchemistry-atkins
6. Physical Chemistry (Castellan) 0201103869
7. Physical Chemistry, Third Edition

nah, bagi anda yang berminat memilikinya, jika hanya ebook kimia fisik maka harganya Rp40.000,-
namun jika + ebook kimia anorganik yang sudah kami terbitkan, maka harganya hanya Rp75.000,-
silahkan hubungi aas.weblog@gmail.com untuk pemesanan. Semoga bermanfaat.

Ebook kimia analitik


salam kimia semua, kebutuhan akan pengetahuan kimia dalam analisis suatu material tentu sangat penting. Baik analisis kualitatif maupun kuantitatif, kesemuanya itu memerlukan skill dan pengetahuan yang mendalam. Saat ini tentu mahasiswa khususnya kimia sulit untuk ditemukan, apalagi buku-buku jadul yang sudah tidak diterbitkan sekarang ini. Untuk memenuhi hasrat kebutuhan akan hal tersebut maka kami menawarkan produk kami, ebook kimia analitik dengan komposisi sebagai berikut:
1. Analysis and Purification Methods in Combinatorial Chemistry
2. Chemistry - Polymer characterization - Laboratory techniques and analysis.by konyblack
3. ECDman
4. ECD Training Record (RC-118)
5. Gas CHromatography_2.A
6. Gas Chromatography Detector_A
7. HiQ_GC_ECD(appl)
8. How.to.Use.Excel.in.Analytical.Chemistry.and.in.General.Scientific.Data.Analysis.Cambridge.University.Press.2004
9. Lab_2_Introduction_to_Quantitative_Analysis_Chemistry
10. LC_A3
11. LCD_A2
12. Measurement of the dispersion of glass with a prism spectrometer
13. Modern Instrumental Analysis 47 (Comprehensive Analytical Chemistry) - S. Ahuja, N. Jespersen (El
14. Preparative chromatography
15. Prin-Prac_2A
16. Silverstein - Spectroscopy Chemistry NMR FTIR MS
17. Spectroscopy_id
18. vogel_practical_organic_chemistry_5th_edition(new)!!!!!!!!
19. vogel qualitative inorganic analysis 5thed
20. VOGEL'S TEXTBOOK OF QUANTITATIVE CHEMICAL ANALYSIS
21. Wavelength measurement through the use of a diffraction grating
22. Wiley Analysis and Purification Methods in Combinatorial Chemistry

demikian beberapa ebook yang kami tawarkan, jika berminat silahkan hubungi aas.weblog@gmail.com
harga Rp50.000,- belum termasuk ongkos kirim.

Rabu, 08 Desember 2010

Kromatografi

Kromatografi adalah metode fisika untuk pemisahan, dalam mana komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara dua fase, salah satunya merupakan lapisan stationer dengan permukaan yang luas, dan fase yang lain berupa zat cair (fluid) yang mengalir lambat (perkolasi) menembus atau sepanjnag lapisan stationer (A. I. M. Keulemans, 1959). Fase stationer dapat berupa zat padat atau cair, dan fase geraknya dapat berupa cairan atau gas. Berdasarkan fase stationer dan fase geraknya kemudian kromatografi dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu:
1. cairan (fase gerak)-padat (fase stationer) : Kromatografi orisinil Tswett dengan larutan petroleum eter dan kolom CaCO3 dan kromatografi pertukaran ion.
2. Gas-padat : Kromatografi gas padat atau GSC
3. cair-cair : Kromatografi partisi pada kolom gel silika dan kromatografi kertas
4. gas-cair : Kromatografi gas cairan atau GLC (Underwood,1986).
Kemudian berdasarkan interaksinya, kemudian kromatografi dibagi ke dalam:
1. Kromatografi Adsorbsi
Untuk memisahkan suatu campuran, dapat digunakan adsorben zat padat seperti alumina sebagai fasa tetap dan dengan pelarut tertentu. Dalam kromatografi jenis ini cepat lambatnya suatu komponen bergerak bergantung pada interaksi dengan adsorben yang digunakan. Semakin kuat suatu komponen terserap, maka semakin lambat komponen tersebut bergerak. Dengan keadaan ini maka diharapkan pemisahan akan terjadi secara sempurna (Hardjono S, 1985).
2. Kromatografi Partisi
Perbedaan mendasar jenis interaksi ini adalah sifat dari penyerapnya, di mana dalam kromatografi partisi fase diam berupa materi berpori seperti kieselguhr, yang dilapisi dengan lapisan dari zat cair (sering pula digunakan air). Fase tetap adalah lapisan zat cair dan zat padat bertindak sebagai penyangga atau penyokongnya (Hardjono S, 1985).

Senin, 06 Desember 2010

Ebook Kimia Anorganik



Salam kimia semua, setelah beberapa waktu lalu telah saya luncurkan ebook kimia organik dan biokimia, sekarang kami luncurkan kembali koleksi kami yang lain yaitu ebook kimia anorganik. Sebagai bahan pertimbangan berikut kami sampaikan komposisinya:
1. A Chomprehensive treatise on Inorganik and Theoretical Chemistry by Melor J. W.
2. A Text-Book of Inorganik Chemistry by Friend J. N.
3. Buku Teks Kimia Anorganik by Taro Saito
4. Chemistry of Gunpowders and Explosives
5. Chemistry of Petrochmeical Processes
6. Inorganik Chemistry in Medicine by Farrell N. P.
7. Frontiers of Inorganik Chemistry
8. Frontiers in Transition Metal Containing Polymers by Abd El Aziz
9. Handbook of Organopaladium Chemistry for Organic Sinthesys by Negishi E.
10. Handbook of Preparative Inorganik Chemistry by George Brauer
11. Inorganic Chemistry by Catherine
12. Inorganic Chemistry by Miessler
13. Inorganic Structural Chemistry
14. Modern Inorganik Chemistry by Chamber
15. Nomencalture of Inorganic Chemistry by Connelly et. al.
16. Orgaomagnesium Method ini Organik Chemistry
17. Plymer Cemistry – Harwood L. M. et all.
18. Practical Inorganik Chemistry – Dunaeva Et al
19. Progress in Inorganik chmeistry – Kenneth

nah, teman kimia semua, daftar di atas adalah daftar ebook yang kami tawarkan kepada anda sekalian. Jika berminat silahkan kirim email pemesanan ke aas.weblog@gmail.com. Harga yang kami tawarkan cukup murah, yaitu: Rp 50.000,- belum termasuk biaya kirim.

Jumat, 26 November 2010

Argentometri Metode Fajans: Indikator Adsorpsi

Bila senyawa organik berwarna diadsopsi pada permukaan suatu endapan, dapat terjadi modifikasi struktur organiknya, dan warna itu dapat sangat berubah dan dapat menjadi lebih tua. Gejala ini dapat digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam perak. Senyawa organik yang digunakan dengan cara demikian ditunjuk sebagai “indiktor adorpsi” (Underwood, 1986).
Mekanisme bekerjanya indikator semacam itu berbeda dengan mekanisme apapun yang telah dibahs sejauh ini. Fajans, yang menemukan fakta bahwa floureseins dan beberapa fluoreseins tersubstitusi dapat bertindak sebagai indikator untuk titrasi perak. Bila perak nitrat ditambahkan ke dalam suatu larutan natrium klorida, partikel perak klorida yang sangat halus itu cenderung menempel pada permukaannya (mengadsopsi) sejumlah ion klorida berlebihan yang ada dalam larutan itu. Ion-ion koerida ini dikatakan memebentuk lapisan teradsorpsi primer dan dengan demikian menyebabkan partikel koloidal perak klorida itu bermuatan negatif. Partikel negatif ini kemudian cenderung menarik ion positif dari dalam larutan untuk membentuk lapisan asorpsi sekunder yang terikat lebih longgar.
(AgCl)Cl- -- M+

Bila perak nitrat terus-menerus ditambahkan, sampai ion peraknya berlebih, ion-ion ini akan menggantikan ion klorida dalam lapisan primer. Maka partikel menjadi bermuatan positif, dan anion dalam larutan ditarik untuk membentuk lapisan sekunder.
(AgCl)Ag+ -- X-

Fluoresseins merupakan asam organik lemah yang dapat dilambangkan dengan HFl. Apabila fluoresseins ditambahkan ke dalam labu titirasi, anionnya, Fl-, tidaka akan diserap oleh perak klorida selama ion klorida masih berlebih. Tetapi bila ion perak berlebbig maka ion Fl- dapat ditarik kepermukaan partikel yang bermuatan positif, seperti:
(AgCl)Ag+ -- Fl-

Agregat yang dihasilakan akan berwarna merah muida dan warna itu cukup kuat untuk digunakan sebagai indikator visual (Underwood, 1986).

Argentometri Metode Volhard : Pembentukan Kompleks Berwarna

Titrasi Ag dengan NH4SCN dengan garam Fe(III) sebagai indikator adalah contoh metode Volhard, yaitu pembentukan kompleks berwarna dalam larutan. Selama titrasi, Ag(SCN) terbentuk sedangkan titik akhir titrasi tercapai bila NH4SCN yang berlebih bereaksi dengan Fe(III) membentuk kompleks berwarna merah gelap [Fe(SCN)]2+. Jumlah tiosianat yang menghasilkan warna harus sangat kecil sehingga kesalahan dalam titik akhir titrasi dapat diminimalisir. Pada metode Volhard, untuk ion klorida, suasananya haruslah asam karena pada suasana basa F33+ akan terhidrolisis. Berikut ini reaksi-reaksi yang terjadi dalam metode Volhard

Ag+ + SCN- --> AgSCN

Fe3+ + SCN--->FeSCN- (merah) (Underwood, 1986).

Dalam titrasi langsung perak dengan tiosianat terdapat dua sumber galat keduanya galat yang ringan. Pertama, endapan perak tiosianat mengadsorpsi ion perak pada permukaannya sehingga menyebabkan titik akhir terjadi terlalu dini. Kesulitan ini dapat diatasi dengan mengaduk kuat-kuat campuran di dekat titik akhir titrasi. Kedua, perubahan warna yang menandai terjadi pada suatu konsentrasi tiosianat yang sedikit melebihi konsentrasi pada titik ekivalen (Underwood, 1986).

Argentometri Metode Mohr: Pembentukan endapan berwarna

Seperti sistem asam basa yang menggunakan indikator dalam titrasinya, pembentukan suatu endapan lain dapat pula digunakan untuk menyatakan lengkapnya suatu titrasi pengendapan. Contoh yang paling dikenal akan contoh semacam itu adalah apa yang disebut titrasi Mohr (dari) klorida dengan ion perak, dalam mana digunakan ion kromat sebagai indikator. Pemunculan yangpermanen dan dini dari endapan perak kromat yang kemerahan itu diambil sebagai titik akhir titrasi (Underwood, 1986).

Pengendapan indikator pada atau di dekat titik ekivalen titrasi. Perak kromat lebih dapat larut (sekitar 8,5 . 10-5 mol/L) aripada perak klorida (sekitar 1 . 10-5 mol/L). Jika ion perak ditambahkan ke dalam suatu larutan yang mengandung ion klorida dengan konsentrasi tinggi dan ion kromat dengan konsentrasi rendah, maka perak klorida ajan mengendap terlebih dahulu. Perak kromat baru akan terbentuk bila konsentrasi ion perak meningkat tinggi sehingga Ksp perak kromat terlampaui (Underwood, 1986).

Titrasi pengendapan (Pengantar Argentometri)

Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi di mana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam sukar larut. Prinsip dasrnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada saat penembahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk menentukan titik akhir titrasi (Khopkar, 2007¬).
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang populer adalah Argentometri. Analisis argentometri merupakan analisis kuantitatif volumetri yang didasarkan pada proses pengendapan dan pebentukan garam perak dengan menggunakan AgNO3 sebagai larutan standar. Garam AgNO3 yang digunakan dapat berupa AgNO3 proanalisis (murni) sebagai zat standar. Biasanya larutan sampelnya merupakan sampel yang mengandung ion halida atau sianida. Titik ekivalen dalam titrasi ini dicapai saat konsentrasi ion sampel sama dengan konsentrasi Ag+ (Vogel, 1994).
Dalam titrasi Argentometri tedapat tia indikator yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Metode Mohr menggunkan ion kromat (CrO42-) untuk mengendapkan Ag2CrO4 yang berwarna coklat. Metode Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk kompleks berwarna dengan ion tiosianat (SCN-). Dan metode Fajans memanfaatkan indikator absorbsi (Underwood, 1986).

Selasa, 23 November 2010

Titrasi pengendapan (Pengantar Argentometri)

Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi di mana hasil reaksi titrasinya merupakan endapan atau garam sukar larut. Prinsip dasrnya adalah reaksi pengendapan yang cepat mencapai kesetimbangan pada saat penembahan titran, tidak ada pengotor yang mengganggu dan diperlukan indikator untuk menentukan titik akhir titrasi (Khopkar, 2007¬).
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang populer adalah Argentometri. Analisis argentometri merupakan analisis kuantitatif volumetri yang didasarkan pada proses pengendapan dan pebentukan garam perak dengan menggunakan AgNO3 sebagai larutan standar. Garam AgNO3 yang digunakan dapat berupa AgNO3 proanalisis (murni) sebagai zat standar. Biasanya larutan sampelnya merupakan sampel yang mengandung ion halida atau sianida. Titik ekivalen dalam titrasi ini dicapai saat konsentrasi ion sampel sama dengan konsentrasi Ag+ (Vogel, 1994).
Dalam titrasi Argentometri tedapat tia indikator yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Metode Mohr menggunkan ion kromat (CrO42-) untuk mengendapkan Ag2CrO4 yang berwarna coklat. Metode Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk kompleks berwarna dengan ion tiosianat (SCN-). Dan metode Fajans memanfaatkan indikator absorbsi (Underwood, 1986).

Senin, 22 November 2010

Kolorimetri

Kolorimetri dikaitkan dengan penetapan konsentrasi suatu zat dengan mengukur absorpsi relatif cahaya sehubungan dengan konsentrasi tertentu zat itu. Dalam kolorimetri visual, cahaya putih alamiah ataupun buatan umumnya digunakan sebagai sumber cahaya, dan penetapan biasanya dilakukan dengan suatu instrumen sederhana yang disebut kolorimeter atau pembanding (comparator) warna. Bila mata digantikan oleh sel fotolistrik instrumen ini disebut kolorimeter fotolistrik.
Keuntungan utama metode kolorimeter adalah bahwa metode ini memberikan cara sederhana untuk menentukan kuantitas zat yang sangat kecil. Batas atas metode kolorimeter pada umumnya adalah penetapan konstituen yang ada dalam kuantitas kurang dari 1 atau 2 persen. Penegmbangan kolorimeter fotolistrik yang tidak mahal menyebabkan cabang analisis kimia instrumental ini bahkan dapat dilakukan dalam lembaga pendidikan yang kecil sekalipun.

Metode pengukuran maupun perbandingan warna
Asas dasar kebanyakan pengukuran kolorimetrik terdiri dari perbandingan warna yang dihasilkan oleh zat dalam kuantitas yang tak diketahu dengan warna yang sama yang dihasilkan oleh kuantitas yang dikatahui dari zat yang akan ditetapkan itu. Ada enam metode yang biasa digunakan untuk mengukur atau membandingkan warna, yaitu:
a. Metode deret standar
Metode ini dilakukan dengan membuat suatu deret larutan standar zat yang akan diketahui konsentrasinya dengan berbagai macam variasi konsentrasi. Kemudian larutan sampel dibandingkan dengan deret yang ada. Larutan dengan warna yang serupa secara eksak dengan standar memiliki konsentrasi sama dengan konsentrasi standar.

b. Metode duplikasi
Dibuat satu standar dengan konsentrasi yang telah diketahui. Kemudian sampel diberi reagen pewarna yang sama dengan standar hingga warnanya serupa. Metode ini hanyalah metode kira-kira namun cukup sederhana.

c. Metode pengenceran
Larutan standar dan sampel dimasukkan ke dalam dua tabung dengan ukuran yang sama kemudian dilakukan pengenceran sedikit demi sedikit terhadap larutan yang lebih pekat hingga warnanya sama. Metode sangat tidak tepat.

d. Metode perimbangan
Hampir sama dengan metode pengenceran, namun tabung yang digunakan Silibder Herner

e. Metode fotometer fotolistrik
Dalam metode ini mata manusia diganti oleh suatu sel footlistrk yanh sesuai. Instrumrn yang menggunkan fotolistrik mengukur penyerapan cahaya dan bukan warna zat sehingga instrumen ini lebih tepat bernama comparator fotlistrik.

f. Metode spektrofotometer
Inilah metode paling tepat dalam penentuan konsentrasi zat dalam suatu larutan. Namun memiliki harga yang cukup mahal untuk membeli atau menggunakannya. Hal mengenai spektrofotometer akan dibahas lebih dalam pada artikel-artikel berikutnya.

Tentang Empunya Blog

selamat datang saudaraku semua,,,
semoga kehadiran blog ini berarti dalam hidup anda,,,
perkenalkan saya




Nama : Akhmad Azis Subechi
Asal : Tegal Jawa Tengah
Riwayat Pendidikan
SD Negeri Duren 2 Karawang
SMP Negeri 1 Klari
SMA Negeri 5 Karawang
Prodi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


FB: sukses berkah
email : akhmad.azis.subechi@gmail.com

selamat menikmati

Minggu, 17 Oktober 2010

E book kimia organik dan biokimia



Kawan kimia semua, kebutuhan referensi saat ini sangat penting bagi kita, nah kami punya beberapa ebook nih,,,
Kali ini kami luncurkan semua ebook kimia organik dan biokimia yang terbaik dan pokoknya mantab,,,

Nih daftarnya:
1.Organic Chemistry of Explosives
2.Biochemistry-Jeremy m. Berg
3.Physiology Biochemistry and Pharmacology
4.Semimicro And Macro Organic Chemistry
5.Research Techniques In Organic Chemistry
6.Orbital Interaction Theory Of Organic Chemistry
7.Oxidation and Antioxidants in Organic Chemistry and Biology
8.Student's Guide to Success in Organic Chemistry
9.Organic Chemistry-Robert Hoffman
10.Organic Chemistry-Paula Yurkanis Bruice
11.Organic Chemistry-Stuart Warren-Oxford Press
12.General Organic Chemistry
13.Organic Chemistry-John McMurry-Cornell University
14.Organic Chemistry In Action
15.Organic Chemistry-Jonathan Orsay
16.Nomenclatur In Organik Chemistry
17.Orbital Interaction Theory Of Organic Chemistry
18.Mechanism And theory In Organic Chemistry
19.Laboratory Experiment of General, Organic, and Bochemistry
20.Biochemistry Notes
21.Organic Chemistry-Susan McMurry
22.Instan Notes Biochemistry
23.Plant Biochemistry
24.Physical Science and Thecnologi of Biochemistry
25.Dairy Chemistry and Biochemistry
26.Color Atlas of Biochemistry
27.Named Organic Reaction
28.Organic Chemistry-Jonathan Clayden
29.Advanced Organic Chemistry-Part A: Structur and Mechanism
30.Nutritional Biochemistry
31.Biochemistry and Physiology of Anaerobic Bacteria
32.Biochemistry-Chemical Reaction In Living Cell
33.Biochemistry of Signal Transduction and Regulation
34.Biochemistry and Molecular Biology Compendium
35.Case Files Biochemistry
36.Clinical Biochemistry
37.Advance Organic Chemistry
38.A manual or Biochemistry Protocols
39.The Organic Chemistry Problem Solver
40.Dictionary Of Biochemistry And Molecular Biology
41.Scaum Outline of Organic Chemistry
42.Toxicological Chemistry and Biochemistry
43.Vitamin E

Nah bagi yang berminat bisa pesan ke
aas.weblog@gmail.com
harga Rp. 50.000,- belum termasuk ongkos kirim CD
cepat.....
buku-buku di atas akan sangat membantu saat anda mengerjakan skripsi, khususnya bidang kimia organik
untuk bidang lain,seperti anorganik, kimia lingkungan atau kimia fisik akan kami luncurkan kemudian,so jangan sampai anda tidak mengoleksi semuanya ya

titrasi

Bagi mahasiswa kimia, tentunya tidak asing lagi ketika mendengar istilah titrasi. Ya, titrasi merupakan salah satu metode analisis kuantitatif konvensional yang sampai saat ini masih digunakan meskipun sudah banyak instrumen-instrumen yang lebih cepat dan akurat dalam menganalisis. Titrasi masih menjadi pilihan karena selain peralatannya yang sederhana dan cukup murah, namun juga merupakan dasar dari teknik analisis kuantitatif.
Secara umum komponen utama dari peralatan titrasi ada dua, yaitu buret dan erlenmeyer

Buret berisi larutan pentitrasi, sedangkan dalam erlenmeyer berisi larutan yang dititrasi.
Dalam melakukan titrasi ada dsua jenis larutan wajib yang harus ada. Pertama adalah larutan yang akan dianalisis kandungan di dalamnya, atau lebih sering disebut analit. Larutan kedua adalah larutan pembanding yang sudah diketahui konsentrasinya, atau lebih sering disebut larutan standar. Di luar dua jenis larutan tersebut ada pula yang disebut indikator titrasi. Indikator titrasi ini digunakan untuk memberi tanda saat titik akhir titrasi. Biasanya titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan. Contoh indikator yang digunakan dalam titrasi asam-basa misalnya fenolftalein, metol orange, bromtimolbiru dan lain-lain.
Ada beberapa jenis titrasi, yaitu:
1.Titrasi asam-basa
Yaitu titrasi yang di dalamnya berlangsung reaksi asam-basa.

2.Titrasi redoks
Yaitu reaksi yang di dalamnya melibatkan adanya transfer elektron dari satu senyawa ke senyawa yang lain. Atau secara singkat merupakan titrasi di mana dialamnya berlangsung reaksi reduksi oksidasi.

3.Titrasi pengendapan
Yaitu reaksi yang dalam prosesnya melibatkan terbetuknya endapan.

Jumat, 15 Oktober 2010

ikatan kovalen koordinasi

Suatu senyawa dapat tersusun atas atom-atom atau ion-ion. Senyawa yang tersusun atas atom-atom contohnya ialah H2O, HCl, NH3, dan PCl5. Senyawa yang tersusun atas ion-ion contohnya adalah NaCl, KCl, (NH4)NO3, dan [Co(NH3)6][Co(CN)6]. Senyawa yang tersusun atas atom-atom merupakan senyawa kovalen, sedangkan yang tersusun atas ion-ion merupkan senyawa ionik (Efendy, 2007).
Dalam ikatan kovalen, ikatan terjadi melalui pengunaan bersama elektron oleh kedua atom. Ikatan kovalen dapat juga terbentuk dengan pasangan elektron berasal dari salamh satu atom seperti ikatan kovalen yang terjadi antara atom nitrogen dan atom boron dalam H3NBF3 yang diperoleh dari reaksi antara NH3 dan BF3.


Ikatan kovalen dengan pasangan elektron berasal dari salah satu atom yang berikatan disebut ikatan kovalen koordinasi (Efendy, 2007)
Ditinjau dari konsep asam-basa, pada pembentuka n H3NBF3 dari reaksi antara NH3 dan BF3, molekul NH3¬ yang menyumbangkan pasangan elektron bebas berlaku sebagai basa lewis, sedangkan molekul BF3 yang menerima pasangan elektron bebas berlaku sebagai asam lewis. Reaksi pembentukan H3NBF3 di atas merupakan salah satu contoh reaksi asam-basa lewis (Efendy,2007).

Rabu, 13 Oktober 2010

Protein

A.Pengertian

Protein yang namanya berarti “pertama” atau “utama” merupakan komponen utama dalam semua sel hidup. Pada sebagian besar jaringan tubuh, protein merupakan komponen terbesar setelah air. Kira-kira lebih dai 50% berat kering sel merupakan protein. Protein adalah senyawa organik yang terdiri atas unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan banyak pula yang mengandung belerang dan fosfor.
Secara kimiawi protein merupakan senyawa polimer yang tersusun atas satuan asam-asam amino sebagai monomernya. Asam-asam amino terikat satu sama lain melalui ikatan peptida, yaitu ikatan antara gugus karboksil (-COOH) dengan gugus amina (NH3). Proses pembentukan ikatan peptida ini disertai dengan pelepasan air (Estien Yazid, 2006).
Protein adalah polipeptida yang memiliki kira-kira 100 sampai 1800 atau lebih residu asam amino. Protein alamiah memiliki 20 jenis asam amino. Untuk setiap protein tertentu, urutan dan jenis asam amino penyususnnya sangatlah spesifik.


B.Klasifikasi Protein
Ditijau dari strukturnya, protein dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan protein sederhana dan protein gabungan. Yang dimaksud protein sederhana adalah protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam amino, sedangkan protein gabungan adalah protein yang terdiri atas protein dan gugus buakn protein. Gugus ini disebut gugu prostetik dan terdiri atas karbohidrat, lipid atau asam nukleat.


C.Analisis Kualitatif Protein
1.Reaksi Xanthoprotein
Larutan asam nitrat pekat ditambahkan denagan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi adalah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Jadi reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, triptofan, dan fenilalanin.

2.Reaksi Hopkins-Cole
Triptofan dapat berkondensasi dengan beberapa aldehida dengan bantuan asam kuat dan membentuk senyawa yang berwarna. Larutan protein yang mengandung triptofan dapat di reaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glikosilat. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan sehingga membentuk lapisan di bawah protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua larutan tersebut. Pada dasarnya reaksi Hopkins-Cole memberi hasil positif khas untuk gugus indol dalam protein.

3.Reaksi millon
Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol. Jadi protein yang mengandung tirosin akan memberikan hasil positif.

Kamis, 07 Oktober 2010

SNI Minyak Atsiri [Nilam, Kemukus, Daun Cengkih, Kayu Manis, Kayu Putih, Gaharu Buaya, Ylang-ylang]

berikut ini link SNI untuk minyak atsiri

http://www.4shared.com/file/103245027/d1b2ae16/SNI_06-1507-2006_Minyak_kemukus_terbit.html


http://www.4shared.com/file/103245032/b8c36bd8/SNI_06-2385-1998_Minyak_nilam.html


http://www.4shared.com/file/103245065/5bd00a3e/SNI_06-2385-2006_Minyak_nilam.html


http://www.4shared.com/file/103245083/2c308285/SNI_06-2387-2006_Minyak_daun_cengkih.html


http://www.4shared.com/file/103245087/2b5d469c/SNI_06-2388-2006_Minyak_pala.html


http://www.4shared.com/file/103245108/72f9bb32/SNI_06-3734-2006_Minyak_kulit_kayu_manis.html


http://www.4shared.com/file/103245113/fc3053fb/SNI_06-3954-2006_Minyak_kayu_putih.html


http://www.4shared.com/file/103245123/d71d0038/SNI_06-7224-2006_Minyak_ylang-ylang.html


http://www.4shared.com/file/103245141/6f49c692/SNI_06-7227-2006_Minyak_gaharu_buaya.html